Gedung Agung Yogyakarta

Gedung Agung Yogyakarta merupakan salah satu bangunan cagar budaya bersejarah sekaligus berfungsi sebagai Istana Kepresidenan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Melalui program ISTURA, seluruh pengunjung, keluarga, sekolah, komunitas, instansi, maupun pendaftar individu/perorangan dengan satu koordinator/penanggung jawab dapat menikmati wisata edukasi menarik untuk menjelajahi area luar dan bangunan bersejarah ini. Halaman ini menyajikan sejarah singkat Gedung Agung, lokasi, dan cara mendaftarkan kunjungan Anda.

Sejarah Singkat Gedung Agung

Didirikan pertama kali pada tahun 1824 oleh Residen Belanda bernama Anthonie Hendriks Smissaert, Gedung Agung awalnya berfungsi sebagai kantor residen kolonial. Bangunan utama yang ada saat ini dirancang ulang setelah gempa besar tahun 1867.

Pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia (1946-1949), ketika ibu kota negara dipindahkan ke Yogyakarta, Gedung Agung beralih fungsi menjadi Istana Kepresidenan tempat Presiden Soekarno menetap dan menjalankan roda pemerintahan republik yang baru lahir.

Fungsi Gedung Agung Saat Ini

Hingga hari ini, Gedung Agung Yogyakarta berstatus aktif sebagai salah satu Istana Kepresidenan Republik Indonesia. Gedung ini digunakan oleh Presiden Republik Indonesia untuk beristirahat saat melakukan kunjungan kerja di Jogja, melantik pejabat daerah/nasional, menyambut tamu-tamu agung kenegaraan, serta menggelar upacara resmi kenegaraan.

Lokasi dan Aksesibilitas bagi Pengunjung

Gedung Agung terletak sangat strategis di pusat kota Yogyakarta, tepatnya di ujung selatan Jalan Malioboro (Jalan Jenderal Ahmad Yani), Ngupasan, Gondomanan. Lokasinya berseberangan langsung dengan Benteng Vredeburg dan sangat dekat dengan Titik Nol Kilometer Yogyakarta.

Akses ke lokasi ini sangat mudah dijangkau menggunakan kendaraan umum seperti bus Trans Jogja, taksi, ojek online, becak, maupun berjalan kaki menyusuri trotoar ikonik Malioboro.

Cara Resmi Mengunjungi Gedung Agung

Bagi masyarakat umum yang tertarik untuk mengagumi keindahan arsitektur kolonial, taman yang asri, serta berbagai benda koleksi bernilai seni tinggi di Gedung Agung, pendaftaran wajib diajukan melalui program ISTURA secara online. Sebagai salah satu opsi wisata sejarah di Jogja, program ini diselenggarakan tanpa biaya tiket masuk (kunjungan gratis) untuk mengedukasi publik. Di sini, pengunjung, keluarga, sekolah, komunitas, instansi, maupun pendaftar individu/perorangan dengan satu koordinator/penanggung jawab juga dapat menjelajahi kompleks luar ruangan serta mempelajari koleksi seni di museum Istana Kepresidenan Yogyakarta secara teratur.

Harap dicatat bahwa situs isturaiky.page ini merupakan panduan informasi pendaftaran kunjungan masyarakat (ISTURA) dan bukan merupakan situs institusional resmi dari Kementerian Sekretariat Negara atau pengelola Gedung Agung.

Pertanyaan Umum

Apakah Gedung Agung Yogyakarta dibuka untuk umum setiap hari?

Tidak. Sebagai istana kepresidenan aktif, kunjungan umum hanya dilayani pada jadwal hari operasional ISTURA tertentu dan wajib melakukan reservasi slot secara online.

Apakah diperbolehkan masuk ke dalam Gedung Agung secara langsung?

Tidak diperkenankan masuk langsung tanpa janji/booking. Semua pengunjung (termasuk keluarga, sekolah, komunitas, instansi, maupun pendaftar individu/perorangan dengan satu koordinator/penanggung jawab) diwajibkan mendaftar online terlebih dahulu dan mendapatkan persetujuan tertulis berupa pesan WhatsApp konfirmasi.

Di mana pintu masuk resmi bagi rombongan pengunjung?

Pintu masuk resmi bagi pengunjung yang telah disetujui adalah dengan mengikuti arahan petugas/Posko 1/pemandu di gerbang masuk kompleks istana Jalan Malioboro.

Apakah Gedung Agung sama dengan Istana Kepresidenan Yogyakarta?

Ya. Gedung Agung adalah nama historis dan sebutan lokal yang populer untuk kompleks Istana Kepresidenan yang berada di Kota Yogyakarta.

Booking Kunjungan Gedung Agung

ISTURA ยท Istana Untuk Rakyat